Webinar#1 Jurusan Kimia FMIPA “Pemanfaatan Metabolit Sekunder Tumbuhan Rempah Maluku Untuk Mengatasi Pandemi COVID-19”

 

Adapun tujuan webinar adalah untuk menyampaikan hasil temuan dan pengembangan riset dan teknologi tentang kandungan senyawa metabolit sekunder, manfaat, sebaran, dan komposisi minyak kayu putih di Maluku; Membahas penyerangan dan pelemahan virus dari senyawa bioaktif tumbuhan rempah Maluku; dan Membahas pendekatan kimia komputasi untuk memprediksi kandidat obat dari tumbuhan rempah Maluku. Kegiatan Webinar yang dilaksanakan selama 3 jam pada hari Selasa, 7 Juli 2020 melalui Aplikasi Zoom Meetings dan Live YouTube diikuti oleh 750 peserta dari dalam dan luar negeri dengan berbagai latar belakang, baik akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. M. J. Saptenno, S.H.,M.Hum., dalam sambutannya memberi apresiasi atas diselenggarakannya webinar ini. “Bagaimana kita berupaya agar dapat membangun sinergitas dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak, terutama para ahli dan ilmuan terkenal di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia maupun di luar negeri, dalam mengembangkan potensi yang ada untuk mengatasi Pandemi Covid-19. Sebagai lembaga Perguruan Tinggi Negeri (PTN), semua pendekatan dapat dilakukan secara Ilmiah. Perpaduan antara kearifan lokal dan teknologi tinggi perlu dilakukan, sehingga ada alternatif yang tepat berupa kajian-kajian bahan dasar ilmiah”. Beliau mengucapkan terima kasih kepada para narasumber dan berharap kegiatan ini akan menghasilkan berbagai pikiran, teori, dan pengalaman. “Saya yakin bahwa kompetensi para narasumber tidak diragukan lagi, tinggal diberlakukan dalam suatu kerjasama yang baik dan pada akhirnya melahirkan suatu produk yang bermanfaat”, tutur Prof Saptenno.

 

Pada kesempatan yang sama Dr. Yustinus Male, S.Si.,M.Si., selaku Ketua Jurusan Kimia sekaligus Ketua HKI Maluku dan Maluku Utara mengatakan semua komponen bangsa, masyarakat, dan perguruan tinggi harus berupaya bersama untuk menanggulangi pandemi COVID-19, termasuk peran dan tanggungjawab moral Jurusan Kimia FMIPA Unpatti. Beberapa hal yang melatarbelakangi pelaksanaan webinar adalah karena; Pertama, Maluku dalam sejarah dan sampai saat ini terkenal sebagai pusat rempah. Maluku juga menjadi penghasil minyak kayu putih terbanyak di Indonesia. Metabolit sekunder pada cengkih, pala, minyak kayu putih, minyak lawang, dan tumbuhan yang dimiliki oleh Maluku dengan berbagai khasiat;  Kedua, Unpatti memiliki Jurusan Kimia yang konsisten meneliti mengenai komposisi dan sebaran minyak kayu putih yang dihasilkan di daerah di Maluku mulai dari Pulau Ambon, Seram, Haruku, Buru sampai Maluku Tenggara dan sudah hilirisasi produk; Ketiga, kegelisan Jurusan Kimia FMIPA yang melihat viralnya tranding topik Kementerian tertentu yang mengenalkan beberapa produk minyak kayu putih, padahal bahan dasarnya berasal dari Maluku dan ahlinya ada pada Jurusan Kimia Unpatti, seorang professor yang berpuluh-puluh tahun meneliti tentang kompenen dalam minyak atsiri.

 

Narasumber pertama; Prof. Zeily Nurachman, D.Sc. (Guru Besar Biokimia Institut Teknologi Bandung), memaparkan materi tentang Protein SARS-Cov-2 (Virus Corona). Cara pencegahan penyebaran SARS-Cov-2 secara fisik ketika berinteraksi dengan orang lain adalah dengan PHP (Pemberi Harapan Pasti), yaitu Pakai masker untuk semua dan jaga jarak; Hindari berkerumun pada ruang tertutup; Pakai sabun dan air bersih untuk membersihkan diri. Beliau menutup materi dengan menyampaikan bahwa “Virus corona adalah suatu makhluk yang lemah, dia hanya bisa hidup kalau butuh sel inang. Lemahnya kalau berada di udara panas maka dia sudah mati, jadi keuntungan Indonesia adalah daerah tropis itu sarana yang tidak baik untuk pertumbuhan virus. Supaya virus tidak menyebar, maka kita harus konsisten dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.”

 

Pemateri kedua; Prof Dr. Harno Dwi Pranowo, M.Si., (Guru Besar Kimia Universitas Gadjah Mada), membahas tentang Pemodelan Molekul Anti Covid-19. Di Indonesia, herbal yang mengandung multikomponen seperti flavonoid, triterpenoid, kuersetin, dan kurkumin diyakini mampu memperbaiki sistem imunitas melalui penyediaan antioksidan dan faktor antiradang. Pencarian obat dengan bantuan komputasi in silico telah memainkan peran utama dan strategi yang sangat efektif untuk mempercepat dan menghemat penemuan dan pengembangan suatu obat baru. Menurut beliau “Riset yang tidak terganggu oleh COVID-19 adalah kimia komputasi molekul modeling. Penelitian di bidang kimia komputasi sangat menjanjikan untuk dapat terus berlanjut karena difasilitasi oleh komputer yang bekerja non stop. Pertemuan ini menjadi sarana untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan Masyarakat Komputasi Indonesia, untuk melakukan penelitian di tempat riset masing-masing. Bagi orang yang bekerja di eksperimental tetapi menggunakan kimia komputasi sebagai suplemen atau penjelasan terhadap fenomena yang terjadi, sangat memungkinkan. Ada COVID dan tidak ada COVID penelitian terus jalan. Justru kita punya peluang sebelum covid tidak ada skarang menjadi muncul.”

Pembicara ketiga; Prof. Dr. Hanoch J. Sohilait, MS., (Guru Besar Kimia Universitas Pattimura) menyajikan materi tentang Komposisi Kimia Minyak Atsiri Kayu Putih (Melaluca cajuputi) dari Maluku. Minyak kayu putih bermanfaat sebagai decongestion, expectorant, analgesik, anti bakteri, anti jamur, dan anti virus. “Selama kita belum menemukan vaksin corona, ada baiknya kita gunakan bahan lokal yang bersumber dari tanaman rempah Indonesia dan bisa dicoba dari beberapa produk dari minyak atsiri. Apa yang kita lihat dan kita dengar bahwa minyak atsiri membantu kita dalam hal melegakan proses pernapasan yang berhubungan dengan pengobatan adalah hal yang paling baik daripda kita tidak melakukan apa-apa. Semoga bermanfaat”, kata beliau.

“Saya berharap perlu adanya dukungan semua pihak, baik tingkat universitas, Pemerintah Kota dan Daerah serta stakeholder dalam mendukung hasil webinar ini, sehingga jika dimungkinkan kita bisa melakukan hilirisasi berbagai jenis produk, supaya ada produk nasional yang berasal dari sumberdaya alam Maluku dan dapat pergunakan untuk masyarakat luas”. Pada awal pandemik COVID-19 melanda Maluku, Jurusan Kimia FMIPA Unpatti telah melaunching hand sanitaizer sesuai standart WHO yang menggunakan kandungan lokal, yakni alkohol berbasis sopi dengan campuran minyak atsiri: kayu putih, cengkeh, dan pala. “Itu membuktikan bahwa semua yang tersedia di alam Maluku ini dapat dipergunakan spesifik untuk menghambat virus. Ke depan, dalam memasuki tatanan New Normal dan penerapan Kampus Merdeka – Merdeka Belajar,  Jurusan Kimia FMIPA akan melakukan upaya nyata sesuai keilmuan dalam pengembangan sumber daya alam Maluku dan menawarkan bidang unggulan terkait minyak atsiri dalam proses akademik dan diwacanakan ke semua perguruan tinggi di seluruh Indonesia.” ujar Dr. Yustinus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *